Sabtu, 08 Desember 2012

Melamar Itu Cinta

Awalnya aku berfikir, butuh keberanian yang cukup besar bagi seorang laki-laki untuk bisa mengutarakan maksud dan keinginannya. Ya, keinginan untuk melamar seorang wanita. Menemui sang wali dan mengutarakan maksud dan tujuan. Bukan hal mudah, butuh mental besar. Bersiap untuk menerima segala kemungkinan. Layaknya Ali, butuh keberanian untuk bisa melamar ananda Fatimah Binti Muhammad. Tapi seperti itulah seorang lelaki sejati. Siap menerima apapun yang terjadi. Berusaha kemudian menyerahkan hasilnya kepada Sang Pemilik.

"...dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (An Nuur: 26)

Sebuah pesan singkat, siapa kita.. itulah kelak pasangan hidup kita. Apa dan bagaimana ia di dapat, menggambarkan bagaimana sosok ia setelah menikah.

Melamar itu Cinta..
Episode awal dalam kehidupan cinta. Aku fikir, melamar adalah bukti nyata cinta. Teringat sebuah tulisan:

Jodoh kita sudah tertulis di Lauhul Mahfuzh,
Mau diambil dari jalan HALAL ataukah HARAM dapatnya yang itu juga,
Yang beda rasa berkahnya.. 

 Hal ini semakin membuatku yakin bahwa bukan APA, BERAPA dan SIAPA tapi BAGAIMANA ia di dapat. Diberikan dengan lembut dan mesra ataukah dengan hina..

* Teruntuk Yang Terpilih *