Romeo… tak seharusnya meminum
racun saat melihat jasad Juliet yang terbaring. Begitu juga dengan Juliet, tak
seharusnya dengan cepat mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupnya saat
mengetahui sang pujaan hati telah menegak racun. Hufh… seperti itulah cinta
yang tak mempunyai visi dan misi yang jelas.
Sama, ketika Qois memilih untuk
mengakhiri hidupnya. Tanpa Layla, seharusnya hidup Qois tetap bisa dilanjutkan.
Tapi, itulah masalahnya. Ia tak sanggup, memilih untuk menyerah. Tanpa Layla, hidup
tak lagi berarti. Ia memang tak meminum racun seperti yang dilakukan Romeo
& Juliet, atau memutus urat nadinya. Tapi ia membiarkan dirinya tenggelam
dalam duka yang berkepanjangan, larut… hingga napas terhenti. Huff, sayang nian
waktu yang telah diberikan. Tapi itulah jalannya.
Cinta… Apa itu cinta ? Mungkin
banyak sekali definisi tentang cinta, tapi yang pasti cinta adalah ungkapan
emosi jiwa yang sangat manusiawi. Sulit untuk di deskripsikan tapi bisa
dirasakan. Mengutip sedikit tulisan Serial Cinta Ust. Anis Matta: “Pada
mulanya adalah fisik. Seterusnya adalah budi. Raga menantikan pandanganmu. Jiwa
membangun simpatimu. Badan mengeluarkan gelombang magnetiknya. Jiwa meniupkan
kebajikannya. Begitulah cinta tersurat di langit kebenaran. Bahwa karena cinta
jiwa harus selalu berujung dengan sentuhan fisik, maka ia berdiri dalam tarikan
dua pesona itu: jiwa dan raga”.
Cukup menarik kalimat
terakhir yang telah beliau paparkan “Bahwa karena cinta jiwa harus selalu
berujung dengan sentuhan fisik, maka ia berdiri dalam tarikan dua pesona jiwa
dan raga”. Dua pesona JIWA dan RAGA, mungkin itulah jawaban mengapa kemudian
Romeo Juliet dengan tanpa berfikir panjang mengambil
keputusan untuk mengakhiri hidupnya, begitu juga dengan Qois, memilih untuk
tenggelam dalam duka yang berkepanjangan. Huff… sebuah pilihan yang mungkin
akan kita nilai adalah sebuah kebodohan. Hanya karna tidak adanya penyatuan
antara jiwa dan raga.
Lalu, bagaimana CINTA
yang dimiliki oleh Ummu Salamah, istri Rasulullah. Ketika seorang Anas bin
Malik yang diam-diam mengamati kebiasaan Rasulullah ketika bertemu dengan Ummu
Salamah dan Ibunda Aisyah. Sebuah sikap yang berbeda yang diperlihatkan oleh
Rasulullah. Betapa tidak, Rasulullah SAW selalu secara langsung dan reflex mencium
Aisyah setiap kali menemuinya, termasuk dalam bulan Ramadhan. Tetapi tidak
begitu ketika beliau menemui Ummu Salamah. Nah, kebiasaan itulah yang kemudian
dipertanyakan oleh Anas bin Malik kepada Ummu Salamah, yang kemudian dijawab: “Rasulullah
SAW tidak dapat menahan diri ketika melihat Aisyah”.
Jawaban singkat.. sederhana..
datar.. biasa.. Yah, biasa. Seperti hendak menyatakan sebuah fakta tanpa pretensi.
Ya Allah, sungguh luar biasa. Tak tahu, cinta seperti apa yang telah dimiliki
Ummu Salamah. Jawaban yang terlontar menegaskan sebuah fakta yang dapat
diterima dengan suatu kewajaran tanpa syarat, tanpa penjelasan lebih lanjut.
Cemburu ? Sudah
begitu keadaannya, kenapa tidak ? Hah… ataukah memang Ummu Salamah tak
semenarik Aisyah. Wallahu’alam…
Terlalu banyak
hal-hal kecil yang menyedot perhatian kita. Sering kali, bahkan kita
mengedepankan masalah hati, menyibukan dengan masalah pribadi. Owh… Apakah
karna kita tak punya agenda-agenda besar ? Atau mungkin punya tapi tak terfokus
?
Yah… Mungkin kaidah
sederhananya adalah: “Buat agenda-agenda besar agar perhatian
tidak tercurah pada masalah-masalah kecil”.
xxx
sedikit tulisan cinta xxx

Tidak ada komentar:
Posting Komentar