Selasa, 08 Mei 2012

ANTARA 2 CINTA


Romeo… tak seharusnya meminum racun saat melihat jasad Juliet yang terbaring. Begitu juga dengan Juliet, tak seharusnya dengan cepat mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupnya saat mengetahui sang pujaan hati telah menegak racun. Hufh… seperti itulah cinta yang tak mempunyai visi dan misi yang jelas.
Sama, ketika Qois memilih untuk mengakhiri hidupnya. Tanpa Layla, seharusnya hidup Qois tetap bisa dilanjutkan. Tapi, itulah masalahnya. Ia tak sanggup, memilih untuk menyerah. Tanpa Layla, hidup tak lagi berarti. Ia memang tak meminum racun seperti yang dilakukan Romeo & Juliet, atau memutus urat nadinya. Tapi ia membiarkan dirinya tenggelam dalam duka yang berkepanjangan, larut… hingga napas terhenti. Huff, sayang nian waktu yang telah diberikan. Tapi itulah jalannya.

Cinta… Apa itu cinta ? Mungkin banyak sekali definisi tentang cinta, tapi yang pasti cinta adalah ungkapan emosi jiwa yang sangat manusiawi. Sulit untuk di deskripsikan tapi bisa dirasakan. Mengutip sedikit tulisan Serial Cinta Ust. Anis Matta: “Pada mulanya adalah fisik. Seterusnya adalah budi. Raga menantikan pandanganmu. Jiwa membangun simpatimu. Badan mengeluarkan gelombang magnetiknya. Jiwa meniupkan kebajikannya. Begitulah cinta tersurat di langit kebenaran. Bahwa karena cinta jiwa harus selalu berujung dengan sentuhan fisik, maka ia berdiri dalam tarikan dua pesona itu: jiwa dan raga”.

Cukup menarik kalimat terakhir yang telah beliau paparkan “Bahwa karena cinta jiwa harus selalu berujung dengan sentuhan fisik, maka ia berdiri dalam tarikan dua pesona jiwa dan raga”. Dua pesona JIWA dan RAGA, mungkin itulah jawaban mengapa kemudian Romeo  Juliet  dengan tanpa berfikir panjang mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupnya, begitu juga dengan Qois, memilih untuk tenggelam dalam duka yang berkepanjangan. Huff… sebuah pilihan yang mungkin akan kita nilai adalah sebuah kebodohan. Hanya karna tidak adanya penyatuan antara jiwa dan raga.

Lalu, bagaimana CINTA yang dimiliki oleh Ummu Salamah, istri Rasulullah. Ketika seorang Anas bin Malik yang diam-diam mengamati kebiasaan Rasulullah ketika bertemu dengan Ummu Salamah dan Ibunda Aisyah. Sebuah sikap yang berbeda yang diperlihatkan oleh Rasulullah. Betapa tidak, Rasulullah SAW selalu secara langsung dan reflex mencium Aisyah setiap kali menemuinya, termasuk dalam bulan Ramadhan. Tetapi tidak begitu ketika beliau menemui Ummu Salamah. Nah, kebiasaan itulah yang kemudian dipertanyakan oleh Anas bin Malik kepada Ummu Salamah, yang kemudian dijawab: “Rasulullah SAW tidak dapat menahan diri ketika melihat Aisyah”.

Jawaban singkat.. sederhana.. datar.. biasa.. Yah, biasa. Seperti hendak menyatakan sebuah fakta tanpa pretensi. Ya Allah, sungguh luar biasa. Tak tahu, cinta seperti apa yang telah dimiliki Ummu Salamah. Jawaban yang terlontar menegaskan sebuah fakta yang dapat diterima dengan suatu kewajaran tanpa syarat, tanpa penjelasan lebih lanjut. 

Cemburu ? Sudah begitu keadaannya, kenapa tidak ? Hah… ataukah memang Ummu Salamah tak semenarik Aisyah. Wallahu’alam…

Terlalu banyak hal-hal kecil yang menyedot perhatian kita. Sering kali, bahkan kita mengedepankan masalah hati, menyibukan dengan masalah pribadi. Owh… Apakah karna kita tak punya agenda-agenda besar ? Atau mungkin punya tapi tak terfokus ?

Yah… Mungkin kaidah sederhananya adalah: “Buat agenda-agenda besar agar perhatian tidak tercurah pada masalah-masalah kecil”.

xxx sedikit tulisan cinta xxx

Tidak ada komentar: