Setahun…
Dua tahun…
Atau mungkin tiga tahun di awal
pernikahan merupakan sebuah masa dimana keromantisan sebuah hubungan amat
terasa. Setelahnya, mungkin saja banyak sekali permasalahan-permasalahan yang
akan kita hadapi. Sebuah kenyataan yang harus kita hadapi dan tidak mungkin
kita hindari. Kenyataan yang sebenarnya akan membawa kita kembali kepada
komitmen awal sebuah pernikahan. Karna pernikahan adalah separuh dien, “apabila seseorang
melaksanakan pernikahan, berarti ia telah menyempurnakan separuh agamanya, maka
hendaklah ia menjaga separuhnya lagi dengan bertaqwa kepada Allah” (HR Baihaqi dari Anas
bin Malik).
Ya Allah…
Tak tau apa yang sebenarnya ingin aku
bagi ! Hanya saja terkadang hati tak sanggup merasa, mata tak tahan melihat
ketika dua insan yang saling mencinta pada awalnya lambat laun seiring
berjalannya waktu berubah menjadi kata-kata kasar, cacian atau bahkan sebuah
perlakuan kasar terhadap pasangan yang akhirnya merubah hati. Hati !!! Tentu
saja Engkau yang membolak-balikan hati. Tapi apa iya, Engkau juga yang mengatur
hati yang telah terkotori itu. Ah… kurasa tidak! Pasti ini karena kehendak kita
yang mungkin saja tersalah. Ya… pasti begitu, tiada daya dan upaya selain
dari-Mu. Astaghfirullah…!
Berbicara tentang pernikahan, banyak
sekali referensi dari orang-orang di sekelilingku, sedikit mengamati bagaimana
kehidupan mereka. Dulu, sempat terfikir gambaran ideal sebuah pernikahan
(*maklum kebanyakan ikut dauroh plus motivasi ^^). Mengharap pasangan yang
ideal dengan seluruh kriteria ideal bagi kebanyakan orang; agamanya baik,
sekufu, jujur, penyayang, cerdas, bijaksana, sabar, dewasa, mapan dan
semacamnya lah. Tanpa kita sadari bahwa itu adalah sumber dari masalah. Tidak
ada manusia yang sempurna, ikhwan juga manusia lho.
Jadi teringat kembali cerita teman yang
sedang proses. Dialog dua hati yang terjalin, tersirat kegundahan hati yang
sedang dirasa. Mengharap ikhwan yang kaffah, tapi tak sesuai harapan. Realitas
akan usia yang terbilang tak lagi muda
dengan pilihan yang tak sesuai dengan harapan. Meminta pertimbangan dengan murabiyyah
yang aku fikir jawabannya cukup mengambang, yang pada akhirnya meminta waktu
seminggu untuk meminta kepada Sang Pemilik Hati. Ya… Esok engkau akan
memberikan jawabannya saudariku. Semoga diberikan yang terbaik…
Dialog abstrak tentang pernikahan itu
tentu saja cepat atau lambat akan singgah menghampiri hatiku. Jika kemarin hati
masih bisa memilih dengan segala pertimbangan. Bagaimana dengan hari esok? Wallahu’alam.
Mungkin saja… sampai hati tak mampu lagi untuk memilih.
xxx sampaikan pada pemilik hati xxx

2 komentar:
kayak pernah baca ^^'
hehehe... Copas yo ^^. Mba Adee..... ni sombong banget sech.. Ngga pernah ada kabar berita lagi.....
Posting Komentar